January 2, 2026

Jawab Tantangan Penempatan Tenaga Kerja ke Luar Negeri Bagi Lulusan Politeknik, Mendikti Saintek: Hambatan Bahasa Harus Teratasi

Wanitaindonesianews.com, JAKARTA—Politeknik atau  perguruan tinggi vokasi dengan kurikulum berbasis praktik & industri  berfokus pada  keahlian praktis (70% praktik, 30% teori) telah menyiapkan para lulusannya siap bekerja di berbagai perusahaan nasional maupun multinasional. Namun sayangnya peluang pekerjaan ke luar negeri masih minim  lantaran para lulusan politeknik terkendala bahasa.

Hal ini menjadi isu utama  dalam kegiatan lokakarya yang digelar Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia (FDPNI) pada Sabtu, 19 Desember 2025 di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Depok, Jawa Barat.

Lokakarya dengan tema “Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia untuk Bekerja di Luar Negeri: Kesiapan, Standar Kompetensi, Perlindungan dan Strategi Kolaborasi Lintas Sektoral” berlangsung hybrid dan diikuti oleh  seluruh pimpinan institusi pendidikan tinggi vokasi dari seluruh penjuru Indonesia.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. berkesempatan hadir dalam lokakarya yang  dimoderatori Wakil Ketua FDPNI Ir. Bambang Hendrawan, S.T., M.S.M.

Dalam sambutannya  Prof. Brian mengatakan pendidikan vokasi diharapkan  mampu menghasilkan tenaga profesional yang berdaya saing dan berkontribusi bagi pembangunan nasional.

“Arahnya lebih kepada kita ingin menunjukkan bahwa kualitas SDM Indonesia sejajar dengan SDM negara maju. Pendidikan kita harus mampu melahirkan lulusan yang kompeten, profesional, dan percaya diri,” ungkap Brian.

“Arah kebijakan penguatan vokasi harus  dilandasi oleh upaya menaikkan kelas kualitas pendidikan dan kompetensi tenaga kerja nasional,” lanjutnya.

Ia menilai pendidikan vokasi memiliki posisi strategis karena kedekatannya dengan kebutuhan industri dan dunia kerja.

“Konteksnya adalah bagaimana pendidikan tinggi Indonesia, khususnya pendidikan tinggi vokasi, mampu membuktikan kualitasnya di tingkat global,” ucap Brian.

Brian menambahkan pentingnya pembelajaran berbasis praktik baik (best practices), sertifikasi kompetensi yang kredibel, serta penguatan jejaring dengan mitra industri dan pemangku kepentingan terkait.

“Langkah ini penting untuk memastikan lulusan vokasi memiliki kesiapan yang matang dan berkelanjutan,” tegasnya.

Ia pun memberikan apresiasi atas semangat dan kontribusi para pimpinan politeknik dalam mendorong kualitas pendidikan vokasi yang berkelanjutan dan berbasis inovasi.

Ketua FDPNI Ahyar Muhammad Diah, S.E., M.M., Ph.D (foto: dewi)

Sementara itu Ketua FDPNI Ahyar Muhammad Diah, S.E., M.M., Ph.D menyampaikan lokakarya ini membahas tantangan alumni politeknik untuk bekerja di luar negeri untuk upgrade skill.

Meski mereka sudah memiliki skill sesuai kompetensinya, tapi masih sering dipandang unskill.

Dalam  lokakarya ini panitia menghadirkan narasumber Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) Said Saleh Alwaini, MM, MIM, dan Direktur Pemetaan Pasar Kerja Luar Negeri Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) Devriel Sogia, S.T., M.M.

Pada acara ini , Kaprodi Doktor Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMMProf. Dr. Tulus Winarsunu, M.Si, berkesempatan memaparkan  pengalaman UMM mengantar 500 alumni UMM terserap di pasar internasional, terutama di 34 prefektur Jepang.

“Ada sejumlah tantangan penempatan tenaga kerja ke luar negeri. Di antaranya, adanya kesenjangan kompetensi global (skills gap), keterbatasan sertifikasi internasional, hambatan bahasa dan budaya, kerja tidak memiliki portofolio terverifikasi, akses informasi dan jaringan global terbatas, serta regulasi dan administrasi,” ujarnya.

Ditambahkan Ahyar Muhammad yang juga Direktur Politeknik Negeri Samarinda, sejatinya lulusan politeknik sudah menguasai pekerjaan-pekerjaan yang dibutuhkan di luar negeri.

Pendidikan vokasi yang lebih banyak praktik daripada teori, justru sangat membantu lulusan menguasai kompetensi yang dimilikinya.

“Dia sangat memahami pekerjaan-pekerjaan itu. Cuma selama ini mereka tidak tersertifikasi untuk ke luar negerinya sehingga menjadi kendala ketika akan bekerja di luar negeri,” ungkapnya.

Karena itu, kini lulusan politeknik sudah harus juga tersertifikasi untuk penempatan ke luar negeri. Sebelumnya, mereka sudah juga mengantongi sertifikasi, tapi belum terfokus untuk memenuhi kebutuhan industri luar negeri.

Jadi, selain ijazah juga ada sertifikat kompetensi berlisensi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi), yaitu Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).

SKPI ini adalah dokumen resmi dari kampus yang menjelaskan kualifikasi, keahlian, pengalaman, dan prestasi lulusan di luar nilai akademik, sesuai standar Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Jadi, bukan sekedar pelengkap ijazah.

“Dengan adanya SKPI akan memudahkan politeknik memetakan kebutuhan dunia kerja di luar negeri. Kompetensi-kompetensi yang dimiliki disesuaikan dengan permintaan dunia industri.

Ini sesuai dengan Instruksi Presiden kepada menteri untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas calon pekerja Migran Indonesia melalui vokasi dan upgrading skill lainnya untuk mengoptimalkan penempatan Pekerja Migran Indonesia terampil,” ucapnya.

Direktur Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) Dr. Tipri Rose Kartika, M.M yang menghadiri lokakarya tersebut menambahkan pendidikan vokasi harus terhubung langsung dengan kebutuhan industri global.

Ia menyebut program magang sebelum lulus dan pascalulus memiliki peran strategis dalam membentuk kesiapan kerja lulusan.

Dikatakan, strategi untuk mengatasi tantangan yang dibahas dalam lokakarya ini, di antaranya dengan meningkatkan kemampuan bahasa asing, memanfaatkan program magang internasional, dan berkolaborasi dengan institusi seperti BP2MI untuk informasi prosedural yang tepat.

Karena itu, lulusan politeknik sangat perlu upgrade skill dan tingkatkan kompetensi agar bisa bersaing secara global. Selain itu, menguasai bahasa negara yang dituju.

“Setidaknya paham dengan bahasa asing agar komunikasi bisa berjalan lancar karena ini sangat berkaitan dengan pekerjaan yang akan dikerjakan. Jika tidak paham bahasa di negara tersebut, bagaimana dia bisa mengerjakan pekerjaan itu,” ucapnya.

Polimedia sendiri, dan juga politeknik negeri lainnya, kata Tipri, sudah menjalin kerja sama dengan beberapa negara dalam pemenuhan tenaga terampil di negara-negara tersebut.

Pemerintah, saat ini tengah mendorong agar lulusan baru memiliki kesempatan mengikuti magang maupun proyek profesional di luar negeri, seperti di Taiwan, Korea Selatan, China, dan negara lainnya.

FDPNI pun mendukung penuh keberlanjutan program tersebut sebagai bagian dari transformasi pendidikan vokasi.

Dalam lokakarya itu juga membahas transformasi Politeknik Negeri menjadi Polytechnic University atau Polytechnic Institute.

Namun, yang terpenting adalah mengubah pola pikir masyarakat bahwa politeknik merupakan pilihan kedua. Bahwa sejatinya, politeknik juga setara dengan universitas.

Redaksi's avatar

By Redaksi

Related Post