January 3, 2026

Memaknai Hari Ibu di Tengah Bencana, Giwo Rubianto: Perempuan Tetap Tangguh Dalam Merespons Kemanusiaan dan Pemulihan Sosial

Wanitaindonesianews.com, JAKARTA –Momentum Hari Ibu tahun 2025 hadir di tengah bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia terutama di Daerah Sumatra. Namun, dalam situasi darurat, perempuan khususnya ibu tetap menunjukkan ketangguhannya.

Mereka berada di garis terdepan menjaga keselamatan anak-anak, memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, serta menjadi penguat ketahanan keluarga dan komunitas di tengah keterbatasan.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Ir. Giwo Rubianto, M.Pd, Presiden Federasi Bisnis Profesional Wanita Indonesia (BPW Indonesia) sekaligus UN Standing Committee BPW International dalam keterangannya bertepatan dengan peringatan Hari Ibu, pada Senin 22 Desember 2025.

“Tidak hanya itu, dalam situasi bencana, perempuan juga mendominasi barisan tenaga medis dan perawat yang bekerja tanpa lelah di lapangan,” ungkap Giwo.

Giwo mengapresiasi para nakes dalam memberikan pelayanan kesehatan, pendampingan psikologis, dan perawatan bagi para korban, sering kali di tengah kondisi yang serba terbatas dan penuh risiko.

Menurut Dr. Giwo, ketangguhan perempuan dalam bencana merupakan kelanjutan dari semangat perjuangan perempuan Indonesia yang telah teruji sepanjang sejarah.

“Perempuan bukan hanya korban bencana, tetapi aktor penting dalam respons kemanusiaan dan pemulihan sosial. Ketahanan bangsa sering kali bertumpu pada kekuatan perempuan,” katanya.

Di sisi lain, ia juga mengapresiasi gerak cepat Generasi Z dan Milenial yang menunjukkan kepedulian nyata melalui aksi solidaritas. Anak-anak muda memanfaatkan teknologi dan jejaring sosial untuk menggalang bantuan, menyebarkan informasi yang akurat, serta turun langsung membantu korban.

“Gen Z dan Milenial hari ini menjadi wajah solidaritas baru. Mereka bergerak cepat, berani, dan empatik, nilai-nilai yang salah satunya tumbuh dari keteladanan perempuan dan ibu,” ujar Dr. Giwo.

Giwo menambahkan, peringatan Hari Ibu setiap 22 Desember merupakan tonggak sejarah perjuangan perempuan Indonesia, bukan sekadar perayaan seremonial.

“Hari Ibu lahir dari Kongres Perempuan  Indonesia tahun 1928, ketika perempuan dari berbagai daerah bersatu untuk menyuarakan hak, martabat,  dan peran perempuan dalam perjuangan bangsa.

Sejak awal, Hari Ibu dimaknai sebagai gerakan kebangsaan yang menegaskan peran strategis perempuan dalam perjalanan bangsa,” paparnya.

“Hari Ibu adalah refleksi nilai perjuangan, persatuan, dan kepedulian sosial yang diwariskan para founding mothers.

Hari Ibu adalah penghormatan atas keberanian perempuan Indonesia yang sejak awal sejarah bangsa telah berdiri sejajar dalam memperjuangkan kemerdekaan dan masa depan generasi,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Dr. Giwo berharap Hari Ibu tidak berhenti pada peringatan simbolik, tetapi menjadi momentum bersama untuk memperkuat perlindungan perempuan, mendukung peran mereka dalam situasi krisis, serta mendorong kolaborasi lintas generasi.

“Ketika perempuan diperkuat dan generasi muda bergerak bersama, Indonesia memiliki modal sosial yang besar untuk bangkit dan bertahan menghadapi tantangan,” pungkasnya.

Redaksi's avatar

By Redaksi

Related Post