January 28, 2026

Capaian BSN 2025: 10.081 SNI Aktif Perkuat Perlindungan Masyarakat dan Ekonomi Nasional


Wanitaindonesianews.com, JAKARTA — Tahun 2025 menjadi periode penuh dinamika bagi Badan Standardisasi Nasional (BSN). Berbagai tantangan berhasil dilalui dengan capaian strategis yang berdampak langsung pada perlindungan masyarakat, peningkatan daya saing produk nasional, serta penguatan perekonomian Indonesia.

Sepanjang tahun tersebut, BSN terus memperkokoh infrastruktur mutu nasional melalui penguatan standardisasi, akreditasi, dan metrologi sebagai pilar utama pembangunan nasional.

Di bidang standardisasi, BSN menetapkan sebanyak 595 Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari agro, kimia, kesehatan, ekonomi kreatif, mekanika, energi, infrastruktur, teknologi informasi, hingga penilaian kesesuaian.

Secara akumulatif, hingga akhir 2025, jumlah SNI aktif tercatat mencapai 10.081 standar. Sejumlah SNI difokuskan untuk mendukung kebijakan pemerintah, di antaranya SNI food tray, interlocking block, geotekstil, beras padi inbrida, beras fortifikasi, serta sistem peringatan dini gerakan tanah.

Plt. Kepala BSN, Y. Kristianto Widiwardono, menegaskan bahwa perumusan SNI merupakan bagian dari upaya memastikan kebijakan publik berjalan aman dan efektif.

Hal tersebut disampaikannya dalam Konferensi Pers “Refleksi Tahun 2025 dan Outlook Tahun 2026” di Kantor BSN, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

“SNI 9369:2025 tentang Wadah bersekat (Food Tray) dari baja tahan karat untuk makanan, kami susun untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis. Standar ini memastikan peralatan makan aman digunakan, tahan lama, dan tidak mengandung zat berbahaya, sekaligus mendorong industri dalam negeri menghasilkan produk berkualitas,” ujar Kristianto.

Penerapan SNI Dorong Produk Nasional Tembus Pasar Ekspor
BSN mencatat, dari 5.940 jenis produk yang beredar di Indonesia, sebanyak 1.099 jenis produk atau sekitar 18,5 persen telah menerapkan SNI.

Sementara itu, 204 jenis produk ber-SNI atau setara 3,4 persen berhasil menembus pasar ekspor.

Keberhasilan ini turut ditopang oleh 19 Usaha Mikro dan Kecil (UMK) binaan BSN yang sukses memasuki pasar internasional berkat penerapan SNI.

Plt. Kepala BSN, Y. Kristianto Widiwardono (foto: BSN)

Produk tersebut meliputi durian ke China dan Thailand, rumput laut ke Prancis, Amerika Serikat, dan China, keripik nangka ke Ceko, Malaysia, dan Singapura, tempe ke Jepang, sirup dan bawang goreng ke Australia, mukena ke Malaysia, meja rotan ke Argentina, Prancis, dan Eropa, serta briket arang batok kelapa ke Turki, Swedia, India, dan kawasan Timur Tengah.

Sepanjang 2025, BSN memfasilitasi penerapan SNI kepada 775 UMK dan 52 organisasi, serta mendukung sertifikasi SNI bagi 149 pelaku usaha.

Bootcamp SNI dan Perjuangan Kepentingan Nasional di Forum Global
Untuk memperluas pemahaman UMK terhadap standar, BSN menyelenggarakan Bootcamp SNI Bina UMK secara daring selama satu bulan yang diikuti lebih dari 1.000 UMK dari berbagai daerah.

Program ini terlaksana berkat kolaborasi dengan 18 kementerian, lembaga, BUMN, dan institusi terkait.

Di tingkat internasional, BSN aktif memperjuangkan kepentingan nasional melalui forum Technical Barriers to Trade–World Trade Organization (TBT-WTO).

Upaya ini bertujuan meminimalkan hambatan teknis perdagangan sekaligus meningkatkan keberterimaan produk Indonesia di pasar ekspor, termasuk untuk produk viscose staple fibres, produk kayu olahan, ban dan tabung kendaraan bermotor, serta baja dan produk turunannya.

Kerja sama bilateral juga diperkuat, antara lain dengan pemerintah Arab Saudi untuk meningkatkan akses produk Indonesia di Timur Tengah, serta dengan pemerintah China guna memastikan produk impor memenuhi ketentuan standar yang berlaku di Indonesia.

Adopsi Standar Internasional Beri Penghematan Miliaran Rupiah
BSN juga mencatat manfaat ekonomi dari pengembangan SNI yang mengadopsi standar internasional. Kebijakan ini dinilai mampu menyelaraskan praktik nasional dengan standar global sekaligus memberikan efisiensi biaya bagi pengguna.

“Dari pembelian 7 SNI yang mengadopsi internasional terbanyak sepanjang tahun 2025, masyarakat memperoleh penghematan biaya sebesar Rp 3,7 miliar dibandingkan jika membeli standar internasional secara langsung,” ungkap Kristianto.

Beberapa SNI adopsi tersebut antara lain: SNI ISO/IEC 27001:2022 Sistem Manajemen Keamanan Informasi, SNI ISO/IEC 17025:2017 Persyaratan Kompetensi Laboratorium Pengujian dan Kalibrasi, SNI ISO 9001:2015 Sistem Manajemen Mutu, SNI ISO 19011:2018 Pedoman Audit Sistem Manajemen, SNI ISO 45001:2018 Sistem Manajemen K3, SNI ISO 14001:2015 Sistem Manajemen Lingkungan, serta SNI ISO 22301:2019 Sistem Manajemen Kelangsungan Usaha.

Akreditasi dan Metrologi Perkuat Infrastruktur Mutu Nasional
Pada bidang akreditasi, BSN melalui Komite Akreditasi Nasional (KAN) telah mengakreditasi 644 lembaga penilaian kesesuaian. Sementara di bidang metrologi, BSN meraih sembilan pengakuan internasional baru atas kemampuan pengukuran dan kalibrasi, sehingga total pengakuan internasional hingga akhir 2025 mencapai 164 lingkup.

Fokus Kebijakan BSN 2026: Perlindungan Masyarakat dan Daya Saing Nasional
Memasuki tahun 2026, BSN menegaskan komitmennya untuk mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia sebagai Prioritas Nasional, khususnya dalam peningkatan daya saing dan perlindungan masyarakat melalui standardisasi dan penilaian kesesuaian.

Fokus kebijakan BSN mencakup pengendalian mutu barang beredar, perluasan pengakuan dan keberterimaan internasional, serta penguatan keterlibatan pihak ketiga. BSN juga berkontribusi dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden melalui penguatan standar dan ketertelusuran di bidang keamanan pangan, pelayanan kesehatan, pertanian dan perikanan, perumahan dan permukiman, serta pendidikan.

Sejumlah SNI yang menjadi prioritas ke depan meliputi tuna ground meat beku, produk katering, ikan patin, susu bubuk kambing, sistem pembangkit energi angin, instalasi nuklir, kelurahan tangguh bencana, dan reklamasi lahan bekas tambang.

“Ke depan, standardisasi tidak hanya menjadi instrumen teknis, tetapi juga fondasi perlindungan masyarakat dan penguatan kedaulatan ekonomi nasional. Dengan arah kebijakan tersebut, kami berharap BSN dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kemajuan Indonesia,” tegas Kristianto.

Redaksi's avatar

By Redaksi

Related Post