Wanitaindonesianews.com, MAKASSAR –Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI) menggelar seri webinar bertajuk Menyambut Ramadan dengan Akal, Hati dan Jiwa Menuju Hakikat Insan Kamil. Selama bulan Ramadan ini serial webinar ini bakal berfokus pada penbahasan seputar puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan proses penyucian diri menuju derajat insan kamil.
Dalam pengantar webinar perdana yang digelar Senin , 16 Februari 2026, Ketua PP HIFDI, Zaenal Abidin, menjelaskan bahwa Ramadan memiliki banyak sebutan dalam literatur Islam, seperti Syahrul Quran, Syahrul Shiyam, Syahrul Maghfirah, dan Syahrul Mubarak.
“Sebagian besar umat Islam di Indonesia menyebut Ramadan sebagai bulan suci, sementara dalam literatur yang saya baca tidak disebutkan demikian. Ini tentu menarik untuk didiskusikan lebih lanjut,” ujar dr Zaenal.
Ia juga menyinggung adanya empat bulan haram dalam Islam, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Menurutnya, penyebutan Ramadan sebagai bulan suci menjadi diskusi tersendiri yang perlu dikaji lebih mendalam.
“Ramadan seakan datang menyapa, mengajak, dan memeluk orang-orang yang telah mempersiapkan diri untuk menyambutnya,” tuturnya.
Tiga Tingkatan Puasa Menurut Al-Ghazali
Ketua BAZNAS Sulawesi Selatan, Muh. Khidir Alwi, memaparkan kisah Rasulullah dalam menyambut Ramadan.
“Ketika bulan Sya’ban hampir berakhir, Nabi Muhammad SAW menyambut datangnya Ramadan dengan penuh kegembiraan. ‘Marhaban bil muthahhir,’ selamat datang wahai yang mensucikan, demikian ungkapan yang menggambarkan Ramadan sebagai bulan penyuci diri dari dosa dan maksiat,” paparnya.
Ia menegaskan bahwa Ramadan adalah syahrul mubarakah dan syahrul maghfirah.
“Secara spiritual, puasa mengajarkan pengendalian diri,” tegasnya.
Mengutip pemikiran Al-Ghazali, puasa dibagi dalam tiga tingkatan:
Shaum al-‘Awam — sekadar menahan lapar dan haus.
Shaum al-Khusus — menjaga anggota tubuh dari maksiat.
Shaum Khusus al-Khusus — menjaga hati dan pikiran dari selain Allah.
“Puasa sejatinya adalah proses al-imsak, menahan diri secara total, bukan hanya fisik, tetapi juga jiwa dan pikiran,” jelasnya.
Manfaat Puasa: Spiritual dan Kesehatan
Selain dimensi spiritual, puasa juga memiliki aspek kesehatan. Proses autofagi disebut dapat bekerja optimal saat tubuh tidak menerima asupan makanan dalam periode tertentu.
Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184)
Makna “mengetahui” dipahami sebagai kesadaran atas manfaat luas puasa, baik fisik maupun ruhani.
Menurut Khidir, tujuan akhir puasa adalah mencapai derajat takwa, bahkan menjadi ulul albab—mereka yang mampu menyinergikan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.
“Jadi Ramadan bukan sekadar perubahan waktu makan, tetapi momentum transformasi diri. Dari puasa elementer menuju puasa yang menghadirkan kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Dengan demikian, Ramadan menjadi bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga sekolah spiritual untuk membentuk manusia yang lebih bijaksana, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Sang Pencipta,” tandasnya.
Puasa dan Neurosains: Latih Pengendalian Diri
Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta, Taufiq Fredrik, mengaitkan tingkatan puasa dengan tingkat ibadah dalam Islam.
“Ketika seseorang berpuasa 12 hingga 14 jam, metabolisme tubuh mengalami optimalisasi. Proses ini membantu detoksifikasi dan peremajaan sel,” ujarnya.
Ia menjelaskan peran prefrontal cortex dalam pengendalian diri dan pengambilan keputusan.
“Orang yang berpuasa pada tingkatan tinggi secara alami akan menjaga ibadah lainnya, seperti salat, sedekah, dan tadarus Al-Qur’an. Ramadan menjadi momen transformasi spiritual, bukan hanya kewajiban ritual,” ujar Dr. Taufiq.
“Ibadah puasa harus menjadi momentum transformasi spiritual. Jangan sampai setiap tahun hanya berhenti di tingkat elementer,” tegasnya.
Ramadan sebagai Sekolah Spiritual
Webinar ini menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perjalanan spiritual untuk membersihkan diri, mengendalikan nafsu, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Melalui rangkaian seri ini, HIFDI berharap umat Islam dapat menyambut Ramadan dengan kesiapan akal, hati, dan jiwa, serta meningkatkan kualitas ketakwaan menuju insan kamil.

