Wanitaindonesianews.com, JAKARTA — Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) merayakan hari jadinya yang ke-44 dengan menggelar webinar bertajuk “Restoring Hope, Restoring Function” pada Rabu (18/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara daring ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan kompetensi bagi dokter spesialis di seluruh Indonesia. Webinar dihadiri sekitar 500 peserta yang terdiri dari dokter Sp.KFR dan PPDS IKFR dari berbagai daerah.
Acara dibuka oleh Dr. Agus Prasetyo, Sp.KFR, FIPM (USG), AIFO-K sebagai MC, dilanjutkan laporan ketua panitia Dr. Daniel Hadimartana, Sp.K.F.R.
Paradigma Baru: Dari Penyakit ke Fungsi
Ketua Umum PERDOSRI, Rumaisah Hasan, menegaskan pentingnya perubahan paradigma layanan kesehatan dari sekadar menyembuhkan penyakit menuju pemulihan fungsi pasien secara menyeluruh.
“Pasien tidak boleh hanya sekadar bertahan hidup. Kesembuhan sejati adalah ketika mereka mampu kembali berfungsi dalam kehidupan keluarga dan masyarakat,” ujar Dr. Rumaisah.
Menurutnya, dalam pendekatan Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (KFR), keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari kondisi medis, tetapi juga dari kemampuan pasien menjalankan aktivitas dan peran sosialnya.
Pergeseran Sistem Kesehatan Global
PERDOSRI menyoroti pergeseran sistem kesehatan global dari pendekatan disease-based ke function-based. Pendekatan lama berfokus pada diagnosis dan hilangnya gejala, sementara pendekatan baru menitikberatkan pada kemampuan fungsional pasien.
Perubahan ini dinilai penting, seiring meningkatnya angka disabilitas global. Lebih dari 1,3 miliar orang di dunia hidup dengan disabilitas signifikan dan membutuhkan layanan rehabilitasi komprehensif.

Visi Strategis PERDOSRI 2025–2028
PERDOSRI menetapkan visi strategis untuk menjadikan dokter Sp.KFR sebagai gatekeeper utama dalam sistem rujukan kesehatan nasional, khususnya terkait gangguan fungsi.
Strategi ini dibangun melalui tiga pilar utama, yakni advokasi kebijakan, harmonisasi standar pelayanan di 34 provinsi, serta peningkatan edukasi dan kompetensi tenaga medis.
Tantangan Implementasi di Lapangan
Meski memiliki visi besar, PERDOSRI mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, mulai dari ketimpangan distribusi tenaga medis, integrasi sistem JKN yang belum berbasis fungsi, hingga pemahaman lintas profesi yang belum merata.
Selain itu, penerapan International Classification of Functioning (ICF) juga belum konsisten di seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia.
Komitmen Tingkatkan Kualitas Layanan
Dengan mengusung semangat “Satu Visi, Satu Bahasa, Satu Tujuan: Kemandirian Pasien”, PERDOSRI menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas layanan rehabilitasi.
“Perjalanan ini membutuhkan kolaborasi dan konsistensi dari seluruh anggota. Namun dengan komitmen bersama, kita optimistis dapat menjadikan Sp.KFR sebagai pilar utama pelayanan berbasis fungsi di Indonesia,” tutup Dr. Rumaisah.

