Wanitaindonesianews.com, JAKARTA — Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI) bersama Dewan Masjid Indonesia, Kibicare, dan sejumlah mitra menggelar Seri Webinar Kesehatan Ramadhan 1447 H bertajuk “Mitigasi Risiko Metabolik Pasca-Ramadhan: Kiat Tetap Sehat Selama Mudik Lebaran” akhir pekan ini.
Kegiatan ini menjadi forum edukasi penting untuk mempersiapkan masyarakat menghadapi risiko kesehatan saat Ramadan hingga Lebaran, terutama terkait pola makan, perjalanan mudik, dan penyakit metabolik.
Ketua HIFDI dr. Zaenal Abidin membuka webinar yang menghadirkan dua narasumber utama, yakni dr. Prasetyo Widhi Buwono, Sp.PD-KHOM, FINASIM, Anggota Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup PP DMI sekaligus Wakil Ketua PP HIFDI, serta dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK, dokter spesialis gizi klinik.
Dalam paparannya, dr. Tirta menjelaskan bahwa satu sajian khas Lebaran seperti ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng ati, dan nastar mengandung sekitar 1.390 kkal.
Jumlah tersebut hampir setara dengan total kebutuhan kalori harian sebagian orang dewasa.
Menurut dia, lebih dari 60 persen kalori dalam sajian tersebut berasal dari lemak jenuh santan. Kandungan sodiumnya juga mencapai sekitar 2.035 mg, nyaris menyentuh batas harian yang direkomendasikan WHO, sementara kandungan seratnya hanya sekitar 5 gram.
Yang perlu diwaspadai, hampir seluruh jalur metabolik utama mengalami tekanan secara bersamaan.
Ketupat dan lontong memiliki indeks glikemik tinggi, lemak jenuh dari santan mengganggu kerja insulin, sodium meningkatkan tekanan darah, purin dari jeroan menaikkan kadar asam urat, dan minimnya serat mempercepat penyerapan zat-zat tersebut.
“Satu porsi makan Lebaran itu seperti menekan semua tombol bahaya sekaligus — gula, lemak, garam, dan asam urat — dalam satu waktu. Itulah yang membuat risiko metaboliknya sangat nyata, terutama bagi mereka yang sudah memiliki kondisi kesehatan tertentu,” ungkap dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK, pada Jumat 13 Maret 2026 .
Kelompok yang Paling Rentan Saat Lebaran
Dr. Tirta memaparkan bahwa penderita diabetes, hipertensi, asam urat, dan penyakit ginjal kronis menjadi kelompok yang paling berisiko saat mengonsumsi menu khas Lebaran secara berlebihan.
Pada penderita diabetes atau prediabetes, kadar gula darah setelah makan dapat melampaui 200 mg/dL dalam 60–90 menit pertama. Penderita hipertensi berisiko mengalami kenaikan tekanan darah sistolik akibat tingginya sodium, sedangkan penderita asam urat rentan mengalami serangan gout akut, khususnya bila kurang minum air putih.
Sementara itu, pasien penyakit ginjal kronis perlu ekstra waspada karena satu kali makan menu Lebaran dapat melampaui batas sodium yang diperbolehkan, sekaligus mengandung fosfor dan kalium yang berisiko bagi fungsi ginjal.
Lima Strategi Kurangi Risiko Metabolik
Meski demikian, dr. Tirta menegaskan bahwa pesan utama dalam edukasi ini bukan melarang masyarakat menikmati hidangan Lebaran, melainkan mengatur strategi agar tetap aman.
“Tidak perlu diet ketat atau berhenti menikmati hidangan Lebaran. Modifikasi kecil pada cara memasak, makan sayur lebih dulu, bergerak setelah makan, dan minum air putih yang cukup sudah cukup untuk menekan risiko secara bermakna. Yang penting adalah edukasi sebelum Lebaran, bukan menyesal sesudahnya,” lanjut dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK
Ia menjelaskan lima langkah yang dapat diterapkan, yakni memodifikasi cara memasak agar lemak jenuh berkurang, mengonsumsi serat sebelum makan besar, berjalan kaki 15–30 menit setelah makan, mencukupi kebutuhan air putih, serta memanfaatkan rempah dalam masakan seperti kunyit dan jahe.

Persiapan Mudik Sehat Harus Dimulai Sebelum Berangkat
Sebelumnya, dr. Prasetyo Widhi Buwono menyoroti pentingnya kesiapan fisik sebelum dan selama perjalanan mudik.
Menurutnya, banyak pemudik fokus pada kesiapan kendaraan, tetapi kurang memperhatikan kondisi tubuh.
Ia mengingatkan lima hal penting sebelum mudik, yaitu menjaga kondisi fisik dengan tidak melewatkan sahur dan istirahat cukup, melakukan pemeriksaan kesehatan terutama bagi penderita penyakit kronis.
Yang tak kalah penting adalah menyiapkan kotak P3K, membawa bekal bergizi serta cukup minum, dan beristirahat secara berkala selama perjalanan.
Dr. Prasetyo juga menjelaskan peran Dewan Masjid Indonesia dalam mendukung kesehatan jamaah melalui program skrining tekanan darah dan gula darah di masjid bekerja sama dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama provider BPJS.
“Masjid bukan hanya tempat ibadah. Kami ingin masjid menjadi pusat kesehatan jamaah. Dengan skrining sederhana di masjid, kasus hipertensi dan diabetes yang sebelumnya tidak terdeteksi bisa ditangani sebelum menjadi komplikasi serius,” tambah
dr. Prasetyo Widhi Buwono, Sp.PD-KHOM, FINASIM
Peserta Antusias Ikuti Webinar Kesehatan Ramadhan
Webinar ini mendapat sambutan antusias dari peserta yang aktif mengajukan pertanyaan, mulai dari persoalan diabetes hingga kesehatan lansia saat mudik dan Lebaran.
Dr. Ardiansyah Bahar, MKM, dan dr. M. Saptadji, FISQua, CHAE, Sp.KKLP, yang hadir sebagai penanggap, turut menekankan pentingnya edukasi gizi berbasis bukti menjelang Lebaran.
HIFDI pun berencana melanjutkan webinar serupa sebagai bagian dari program edukasi kesehatan berkelanjutan bagi masyarakat dan tenaga kesehatan di Indonesia.

