January 2, 2026

Tokoh Perempuan Giwo Rubianto Menerima Anugerah Srikandi Indonesia 2025

Wanitaindonesianews.com, JAKARTA–Presiden Federasi Bisnis Profesional Wanita Indonesia (BPW Indonesia) Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo memperoleh Anugerah Srikandi Indonesia 2025 dari KompasTV untuk kategori Srikandi Penggerak Sosial.

Bertepatan dengan peringatan Hari Ibu 2025, pada Senin, 22 Desember 2025, Anugerah Srikandi Indonesia didedikasikan bagi tokoh-tokoh perempuan yang berkiprah bukan hanya di politik, tetapi juga di bidang sosial, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hingga lingkungan hidup.

Mereka adalah perempuan-perempuan masa kini yang meneruskan api perjuangan di beragam bidang kehidupan.

Anugerah Srikandi Indonesia didedikasikan bagi tokoh-tokoh perempuan yang berkiprah bukan hanya di politik, tetapi juga di bidang sosial, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hingga lingkungan hidup.

Selain Giwo Rubianto, terdapat sejumlah tokoh perempuan yang juga menerima Anugerah Srikandi Indonesia.

Mereka di antaranya adalah Gusti Kanjeng Ratu Hemas – Wakil Ketua DPD RI, Siti Hediati Soeharto – Ketua Komisi IV DPR RI, Retno Marsudi – Menteri Luar Negeri RI (2014–2024), Susi Pudjiastuti – Menteri Kelautan dan Perikanan RI (2014–2019), Alissa Wahid – Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia, Monica Tanuhandaru – Ketua Bambu Lestari & Blue School dan lainnya.

Giwo Rubianto mengaku tak menyangka akan menerima penghargaan tersebut.

Apa yang sudah dilakukannya selama ini melalui berbagai kiprahnya di organisasi sosial, organisasi profesi, organisasi perempuan, organisasi masyarakat bahkan organisasi politik menjadi cara yang dipilihnya untuk merawat cita-cita luhur para pendiri bangsa.

“Saya sangat apresiate sekali, bersyukur dan tentu berterimakasih atas anugerah ini,” katanya di Studio 1 KompasTV .

Terkait kiprah perempuan, Giwo menyebut sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia sejatinya tidak terlepas dari peran penting perempuan.

“Sejarah mencatat adanya gerakan perempuan Indonesia yang kemudian melahirkan peristiwa Kongres Wanita Indonesia pada tahun 1928.
Peristiwa ini sama penting dan strategisnya dengan Sumpah Pemuda. Karena Kongres Wanita Indonesia menjadi wadah bagi perempuan dari berbagai latar belakang, berbagai ragam organisasi bersatu untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” tegasnya.

Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928, lanjut Giwo juga menjadi sebuah peristiwa penting di mana perempuan dari berbagai daerah bersatu untuk menyuarakan hak, martabat, dan peran perempuan dalam perjuangan bangsa.

“Inilah yang kemudian menjadi satu-satunya alasan penetapan Hari Ibu, yakni sebuah tonggak sejarah gerakan kebangsaan yang menegaskan peran strategis perempuan dalam perjalanan bangsa,” kata Giwo yang telah berkiprah lebih dari 30 tahun dalam penguatan kapasitas dan kepemimpinan perempuan.

Kiprah tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif pemberdayaan di bidang sosial, ekonomi, dan kebangsaan, yang dijalankan dengan menjunjung tinggi nilai integritas, persatuan, serta kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

Menurutnya, inspirasi paling kuat bukan hanya berasal dari teori maupun kata-kata, tetapi dari contoh nyata dalam kerja sosial.
“Keberanian bersuara dan keteguhan nilai menjadi energi inspiratif untuk memberi ruang, menumbuhkan kepercayaan, serta menghadirkan peran mentor,” terangnya.

Giwo mengingatkan bahwa perempuan Indonesia harus bisa menjadi pilar utama pembangunan bangsa, baik sebagai pemimpin, penggerak perubahan sosial, maupun penjaga nilai kemanusiaan.

“Pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang memuliakan perempuan,” tegasnya.

Giwo berharap, Anugerah Srikandi Indonesia 2025 dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi perempuan Indonesia lintas generasi untuk terus berdaya, mengambil peran strategis, serta berkontribusi nyata dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara itu, Direktur Utama KompasTV, Rosianna Silalahi menegaskan, 22 Desember 1928 adalah bagian penting dari perjalanan kemerdekaan Indonesia.

Di hari yang sama dengan tahun Sumpah Pemuda, para perempuan Indonesia berkongres, menyatukan gagasan, dan menyusun agenda perjuangan. Namun, kisah ini kerap luput dari ingatan kolektif.

“22 Desember 1928 adalah sebuah hari yang jadi tonggak sejarah gerakan perubahan. Gerakan untuk ikut memerdekakan Republik. Kita selalu ingat tentang sejarah Sumpah Pemuda, tapi kurang ingat tentang sejarah ini, 22 Desember di tahun yang sama,” ujar Rosiana Silalahi, dikutip dari Channel Kompas TV,

Ia menekankan, sejarah perjuangan perempuan tak pernah terpisah dari sejarah kemerdekaan bangsa.

Namun sayangnya, kisah ini kerap luput dari ingatan kolektif.
KompasTV lanjut Rosiana, ingin memberikan penghargaan kepada para tokoh perempuan yang telah meneruskan semangat dan amalan Kongres Perempuan 97 tahun lalu.

“Gerakan perempuan tidak pernah mudah, tapi pada mereka kita titipkan harapan,” lanjutnya.

Menurutnya, menjelang satu abad Kongres Perempuan Indonesia, Anugerah Srikandi Indonesia menjadi ruang refleksi: sejauh mana agenda perjuangan perempuan masa lalu masih relevan, dan bagaimana ia diterjemahkan hari ini.

Redaksi's avatar

By Redaksi

Related Post