Wanitaindonesianews.com, JAKARTA–Konflik yang terjadi pada organisasi perempuan tertua , Kongres Wanita Indonesia (Kowani) tak kunjung usai. Alih-alih terjadi penyelesaian, kini justru muncul beberapa kubu didalam organisasi yang membawahi ratusan organisasi perempuan itu.
Kekisruhan di tubuh Kowani yang terjadi sejak beberapa waktu ini , jelas membuat khawatir para anggotanya.
Marlinda Irwanti, Ketua Umum Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia dan Korp Perempuan MDI mengaku prihatin dengan keadaan organisasi Kowani yang saat ini terpecah belah.
Guna menyelamatkan organisasi, Marlinda menyampaikan perlu segera digelar Kongres Luar Biasa (KLB).
Meski begitu mantan Anggota DPR RI ini mengajukan opsi adanya kepemimpinan presidium dalam organisasi Kowani.
“Kowani milik 120 organisasi perempuan maka kita kembalikan kepemilikannya tersebut. Jangan dikuasi oleh tokoh sentral sehingga leluasa mengambil kebijakan organisasi dan mengabaikan asas kolektif kolegial,” tegas Marlinda, pada Selasa 23 Desember 2025.
Marlinda menegaskan KLB adalah solusi untuk penyempurnaan AD/ART. Kongres 2024 silam menyisakan Pekerjaan Rumah karena pembahasan AD/ART belum tuntas.
Selain itu, dalam AD/ART Kowani hasil KLB nanti juga memastikan bahwa organisasi federasi ini bisa menjawab tantangan zaman.
Kowani harus tampil menjadi organisasi federasi yang inovatif dan inklusif.
Kongres Kowani 2024 menjadi pelajaran dan membuka mata kita agar memilih pemimpin yang berkualitas, bukan semata yang hanya bisa menghadapkan posisi suami.
“Syarat menjadi Ketua Umum harus pernah masuk dalam jajaran Dewan Pimpinan minimal 1 periode” ujar Marlinda
Marlinda prihatin, para pihak yang berkonflik saling sebar kebencian kepada organisasi anggota.
Bahkan saat ini ada 4 kubu di tubuh Kowani sejak adanya ketidakharmonisan antara pimpinan dan anggota organisasi tersebut. Diantaranya: Kubu Ketumbar (Ketua Umum Baru), Kubu 19 Dewan Pimpinan, Kubu Organisasi Pendiri dan Kubu Organisasi Anggota.
Marlinda menegaskan bahwa ada tata kelola organisasi yang salah disebabkan kurangnya pengalaman kepemimpinan dalam organisasi plural.
“Mereka yang berkonflik itu satu kubu saat Kongres 2024. Mereka satu barisan tim pemenangan Ketumbar. Jadi tidak benar kalau konflik disebabkan oleh pihak yang kalah Kongres,” bantah Marlinda

