February 14, 2026

PERDOSRI Siapkan Program Strategis dan Kolaborasi Internasional Tingkatkan Kompetensi Dokter Rehabilitasi

JAKARTA – Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) menegaskan komitmennya untuk mendorong transformasi layanan kesehatan nasional menuju paradigma berbasis fungsi dan presisi.

Komitmen tersebut disampaikan usai pelantikan pengurus pusat PERDOSRI masa bakti 2025–2028 yang dilanjutkan dengan Rapat Kerja di Jakarta, Sabtu , 14 Februari 2026.

Ketua Umum Pengurus Pusat PERDOSRI, Rumaisah Hasan, menyatakan pentingnya pemerintah dan pemangku kepentingan mengadopsi paradigma baru di bidang kesehatan, yakni layanan berbasis fungsi.

“Keberhasilan rehabilitasi tidak cukup diukur dari kondisi klinis, tetapi juga dari kemampuan pasien kembali beraktivitas dan berdaya secara ekonomi maupun sosial,” kata Dr Rumaisah.

Fokus pada Precision Medicine dan Kolaborasi Lintas Disiplin
Menurut Dr Rumaisah, perubahan pola pikir menuju layanan kesehatan presisi atau precision medicine menjadi kebutuhan mendesak, termasuk dalam rehabilitasi medis. Pendekatan tersebut menuntut kolaborasi lintas disiplin tanpa sekat antarpihak.

“Kalau kita masih terfragmentasi dan hanya memikirkan perbedaan, maka presisi medicine tidak akan tercapai,” tegasnya.

Ia juga menilai dukungan data berbasis bukti melalui riset klinis dan kerja sama lintas sektor menjadi faktor krusial untuk menyusun kebijakan kesehatan yang tepat.

Tantangan Pembiayaan dan Penentuan Prioritas
PERDOSRI menilai pembiayaan kesehatan masih menjadi tantangan global. Namun, keterbatasan anggaran dapat diatasi dengan penentuan prioritas yang disepakati bersama.

“Berapa pun dana yang tersedia tidak akan cukup jika kita tidak menentukan apa yang menjadi prioritas bersama,” katanya.

Program Strategis Tingkatkan Kompetensi Dokter Rehabilitasi
PERDOSRI telah menyiapkan sejumlah program strategis untuk meningkatkan kapasitas dan kesetaraan kompetensi anggota.

Ketua Umum Pengurus Pusat PERDOSRI, Rumaisah Hasan (foto: istimewa)

Program tersebut mencakup pendidikan berkelanjutan, kolaborasi internasional, hingga fellowship tour ke berbagai negara dan pusat pendidikan terbaik.

“Kami berharap anggota memiliki standar pengetahuan yang sejajar. Untuk itu, kami siapkan program pendidikan dan kolaborasi internasional agar kualitas layanan terus meningkat,” ujarnya.

Saat ini, jumlah anggota PERDOSRI sekitar 1.300 orang. Dalam ujian terakhir, tercatat 61 dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi baru lulus.

Meski demikian, jumlah tersebut masih dinilai belum ideal untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Untuk mengatasi keterbatasan tenaga, PERDOSRI menyiapkan pelatihan bagi dokter umum serta pemberdayaan masyarakat melalui program rehabilitasi berbasis komunitas.

Organisasi ini juga memperluas peran di bidang pendidikan dengan melatih guru yang menangani anak berkebutuhan khusus guna mendukung inklusivitas pendidikan.

Perkuat Kemitraan dengan Kementerian dan Lembaga
Dalam menjalankan misinya, PERDOSRI menjalin kemitraan dengan berbagai kementerian dan lembaga, di antaranya Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Kolaborasi ini mencakup pemetaan ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas, dukungan medical tourism, hingga masukan dalam perencanaan pembangunan nasional berbasis pendekatan kesehatan holistik.

Redaksi's avatar

By Redaksi

Related Post