March 16, 2026

HUT Ke-31 Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, Buka Donasi Pembangunan Rumah Singgah untuk Anak Jalanan

KOTA BEKASI — Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-31 dengan menggelar tasyakuran di Sanggar Humaniora, Perumahan Kranggan Permai, Jatisampurna, Kota Bekasi, Jumat (6/3/2026).

Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk membuka donasi pembangunan Rumah Singgah (Shelter) bagi anak-anak jalanan dan masyarakat terlantar.

Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, Eddie Karsito, menyampaikan bahwa pembangunan rumah singgah menjadi harapan besar untuk menyediakan tempat tinggal sementara yang sehat bagi warga miskin perkotaan.

“Bantu kami agar anak-anak jalanan, pengamen anak, pemulung anak, dan anak terlantar, tidak lagi tinggal di jalanan dan di kolong jembatan,” ujar Eddie Karsito.
Buka Donasi untuk Pembangunan Rumah Singgah

Menurut Eddie, peringatan HUT ke-31 yayasan juga menjadi momentum untuk menggalang kontribusi sukarela dari berbagai pihak, baik dalam bentuk dana maupun bantuan barang, guna mewujudkan pembangunan Humaniora Rumah Singgah (Shelter).

Saat ini, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan membina dan menyantuni lebih dari 90 anak terlantar. Sebagian besar anak-anak tersebut berasal dari keluarga pemulung.

“Banyak diantara anak-anak itu terpaksa putus sekolah. Bahkan ada yang tidak pernah bersekolah karena harus membantu orang tua memulung mencari rongsokan, atau ngamen di jalanan,” terang Eddie Karsito.

Selain anak-anak, terdapat sekitar 257 orang dalam kategori terlantar yang juga berada dalam pembinaan yayasan. Mereka terdiri dari pemulung dan pengamen jalanan yang hidup berpindah-pindah tanpa tempat tinggal tetap.
“Mereka hidup di jalanan. Nomaden (berpindah-pindah). Tinggal di bedeng-bedeng, kolong jembatan kali Sunter (perbatasan Kota Depok dan Kota Bekasi). Ada juga tinggal di gubuk di pinggiran tanah makam Tarikolot di Jatisampurna,” jelas Eddie.


Upaya Membangun Kemandirian dan Karakter Anak
Eddie menegaskan bahwa anak-anak memiliki potensi besar yang perlu dikembangkan melalui pendidikan dan lingkungan yang layak.

Menurutnya, kehadiran rumah singgah akan menjadi ruang belajar sekaligus tempat tinggal yang sehat bagi anak-anak terlantar.

“Potensi itulah yang kami kembangkan dalam mendidik mereka. Dengan adanya Shelter ada ruang belajar dan tempat tinggal yang sehat bagi anak-anak terlantar ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa banyak anak pemulung memiliki semangat kuat untuk bersekolah meski menghadapi keterbatasan ekonomi.

“Mereka ingin bisa sekolah, namun membutuhkan dukungan masif dari berbagai pihak untuk mewujudkan impian mereka,” kata Eddie.

Santunan Anak dan Buka Puasa Bersama
Rangkaian peringatan HUT ke-31 Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan diisi dengan doa tasyakuran, santunan kepada sekitar 90 anak, serta kegiatan berbuka puasa bersama.

Anak-anak yang menerima santunan terdiri dari pemulung anak, pengamen anak, serta anak jalanan yang sebagian di antaranya merupakan yatim piatu.

Sebelum acara puncak, pengurus yayasan juga menyerahkan santunan kepada janda lanjut usia yang berprofesi sebagai pemulung.
Puncak acara tasyakuran dilaksanakan pada Jumat, 17 Ramadan 1447 H atau 6 Maret 2026.

Dorong Kepedulian Sosial dan Aksi Nyata
Pada peringatan tahun ini, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan mengangkat tema “Karya Bakti Sisi Manusiawi Kita untuk Pemulung Anak, dan Anak Terlantar.”

Tema tersebut menekankan pentingnya tanggung jawab sosial, empati, serta aksi nyata untuk membantu kelompok masyarakat yang kurang beruntung.

“Mengajak semua pihak tidak hanya merasa kasihan, tetapi melakukan sesuatu lebih konkret memperbaiki nasib anak-anak yang kurang beruntung,” ujar Eddie Karsito.

Dukungan Tokoh dan Organisasi
Sejumlah tokoh dan perwakilan organisasi turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Herry Budiman dari Dewan Pimpinan Pusat Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (DPP-SWI), Agus Santosa dari Program Jumat Berkah Wartawan (PJBW), serta Gamal Putra dari Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia.

Ketua Umum Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), Mayjen TNI (Purn) Drs. Hendardji Soepandji, S.H., melalui sambutan tertulis menyampaikan pentingnya membangun solidaritas berbasis nilai kemanusiaan.

“Semoga kegiatan yang mulia ini menjadi barokah. Diikuti organisasi kemanusiaan lainnya sebagai wujud solidaritas pada nilai-nilai kemanusiaan yang sangat mulia,” ujarnya.

Sementara itu, Agus Santosa menilai Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan telah menjadi pionir organisasi sosial yang konsisten menjalankan aksi kemanusiaan.

“31 tahun keberadaannya di tengah kehidupan masyarakat. Semoga api semangat yang dimiliki tak pernah padam. Juga menginspirasi yang lain, seperti Program Jumat Berkah Wartawan, insya Allah bisa mengikuti jejaknya,” ujar Agus Santosa.

Gamal Putra juga menegaskan pentingnya lembaga sosial seperti Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan dalam melindungi anak-anak jalanan dari berbagai bentuk eksploitasi.

“Kami senantiasa mendukung kegiatan sosial Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan. Selama 31 tahun ini lembaga ini secara faktual mengayomi dan melindungi para pemulung dan anak-anak terlantar. Tetap konsisten menjalankan visi dan misinya. Sebuah perjuangan panjang yang tidak mudah,” kata Gamal.

Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan didirikan di Bekasi pada 17 Februari 1995 atau bertepatan dengan 17 Ramadan 1415 H oleh Eddie Karsito bersama para seniman, budayawan, wartawan, pendidik, dan penggiat sosial.

Redaksi's avatar

By Redaksi

Related Post