WanitaIndonesianews.com, JAKARTA—Autoimun atau dikenal dengan sebutan penyakit seribu wajah merupakan penyakit ketidak seimbangan sel kekebalan tubuh sehingga menyerang sel dan organ tubuh sendiri. Di Indonesia sendiri, autoimun masih menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat. Pasalnya tidak ada informasi akurat yang beredar bagaimana sebenarnya penanganan penyakit ini.

 

Berbagai gejala bisa ditimbulkan oleh autoimun, seperti nyeri otot, kelelahan hingga rambut rontok akan terjadi pada orang yang didiagnosa penyakit tersebut. Jadi, bagaimana dengan penanganan bagi si penderita?

Samasta Intergrated Center, klinik kesehatan yang concern menangani pengobatan autoimun, bersama Biotek Farmasi Indonesia mengadakan Hybrid Seminar yang bertajuk “Obat Terbaik Dunia Produk Anak Bangsa”, akhir pekan lalu.

Menghadirkan pembicara yang juga merupakan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Alergi Imunologi, Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI dan juga Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (Peralmuni).

Dalam pemaparannya, dr.Iris menyebutkan bahwa tidak ada perawatan yang bisa menyembuhkan penyakit autoimun.

“Dokter dan obat-obatan hanya dapat mengontrol respons imun yang terlalu aktif dan menurunkan peradangan atau setidaknya mengurangi rasa sakit dan peradangan,”kata dr. Iris.

Saat ini pasien autoimun yang ditangani dr. Iris cukup beragam latar belakang hingga usianya.

Untuk meringankan dan menyembuhkannya secara perlahan, dia menyarankan kepada pasiennya agar diet gluten.

“Pengalaman saya, kita banyak berkomunikasi dengan ahli-ahli autoimun lainnya, mencoba supaya diet gluten free”, ungkapnya.

Kenapa diet gluten?, karena ditenggarai ada satu protein di tepung terigu atau tepung gandum, yang seringkali metriger terjadinya kebocoran usus untuk orang-orang yang autoimun.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Alergi Imunologi, Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI (foto-foto: ibonk) 

“Dengan diet gluten untuk sementara waktu, bisa lebih efektif hingga mereka bisa terlepas dari obat-obatan yang selama ini dikonsumsi. Sementara itu, pasien autoimun pun harus diberikan support atau dorongan positif dari lingkungannya. Hal ini karena berkaitan dengan keadaan psikis dari orang yang menderita penyakit tersebut. Betul, harus terus didukung supaya lebih semangat untuk sembuh,” paparnya.

Pada Hybrid Seminar ini sekaligus diperkenalkan obat terbaik dunia produk anak Bangsa yang merupakan terobosan baru Biotechnology Processed Material, ORIGINATOR (bukan meniru yang sudah ada) dari Biotek Farmasi Indonesia.

Diketahui bahwa selama ini penanganan autoimun adalah dengan immunosuppressant, yakni menekan imun dan sejenisnya. Penekanan terhadap sistem imun sendiri sebenarnya tidak boleh dilakukan dalam waktu panjang lebih dari 5 hari karena mengakibatkan efek yang fatal pada jangka pendek, menengah dan panjang bagi si penderita.

Memperkenalkan VIRADEF memiliki efek antivirus, antioksidan kuat, anti radang serta meningkatkan energi seluler/ATP (Adenosin Tri Phosphate) yang didukung jurnal ilmiah serta kesaksian beberapa pasien. VIRADEF aman digunakan setiap hari jangka panjang.

Sedangkan REGIMUN memiliki efek regulasg NFK-b, TNFa serta IL-6 yang terganggu keseimbangannya pada penderita autoimun. REGIMUN juga memiliki efek kapasitas antioksidan yang kuat, anti radang sehingga dapat membantu mengatasi gejala pada penderita autoimun dan membantu meregulasi badai sitokin REGIMUN aman digunakan jangka panjang pada penderita autoimun.

Melalui kerjasama ini, diharapkan lebih banyak lagi masyarakat Indonesia yang teredukasi mengenai autoimun dan penanganan yang tepat salah satunya dengan menggunakan obat terbaik dunia produk anak Bangsa sehingga para penyintas autoimun dapat lebih efektif untuk mencapai remisi.