WIN.com, JAKARTA–Manusia diberikan kemampuan oleh Tuhan untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Termasuk saat menghadapi pandemi covid 19 yang telah berlangsung setahun lebih, manusia memberi respon untuk melindungi diri dari wabah tersebut.

 

 

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan sejak dahulu, setiap ada kejadian pandemi, maka manusia akan beradaptasi dengan pola perilaku baru yang tujuannya agar tidak tertular oleh pandemi.

Sebagai contohkan pandemi black death di Eropa ratusan tahun yang lalu. Pandemi terbesar sepanjang sejarah tersebut dapat menghasilkan perubahan perilaku pada masyarakat, bagaimana orang lebih peduli untuk mencuci tangan, menggosok gigi pakai pasta gigi, membuang sampah pada tempatnya dan lainnya.

“Hal itu juga dijumpai pada pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak setahun lalu. Perubahan perilaku masyarakat yang rajin mencuci tangan, atau menggunakan masker, memang terlihat kecil tapi bisa menghasilkan perubahan yang cukup besar, ” papar Menkes Budi saat menjadi keynote speech pada Webinar yang digelar RS Premier Bintaro bertema “One Year Living With Covid-19, What’s Next”, hari Minggu, 14/3 lalu.

Menurutnya serupa pandemi yang lebih dulu hadir,   covid 19 diyakini tidak bakal kelar dalam satu satu tahun.

Bahkan usai covid 19 bakal terbit epidemi global. Pada kondisi ini negara -negara   di dunia akan berjuang untuk mencapai eradikasi,

“Oleh karenanya setiap pandemi mengharuskan orang untuk mengubah perilakunya.  Dan perubahan perilaku tersebut tidak mungkin diciptakan oleh Kementerian Kesehatan. Masyarakatlah yang mesti memiliki kesadaran untuk berubah. Karena perubahan perilaku ini sifatnya harus permanen, tidak hanya dilakukan saat terjadi pandemi, ” ujarnya.

Berdasarkan WHO, ada 4 pilar penting penanganan Covid-19. Pertama adalah bagaimana diagnostic terhadap pasien Covid-19 ditegakkan.

Direktur Utama RS Premier Bintaro dr Martha ML Siahaan, MARS, MHKes/ foto: dok

“Diagnostik itu berarti tracing dan isolasi terhadap pasien. Ini sangat penting untuk melakukan identifikasi siapa saja yang terkena infeksi. Ini penting untuk menahan penyebaran kasus Covid-19,” kata Menkes.

Pilar kedua adalah terapeutik yakni bagaimana tatalaksana penanganan orang sakit. Mulai dari cara pengobatan, akses ke dokter, akses ke rumah sakit dan penanganan isolasi bagi pasien Covid-19.

Pilar ketiga adalah vaksinasi. Saat ini jumlah penduduk Indonesia yang sudah mendapatkan vaksin Covid-19 berjumlah sekitar 5 juta orang. Setiap hari terdapat penambahan 300 ribu hingga 400 ribu orang yang divaksin.

Dikatakan Menkes Budi lagi, Pemerintah akan tingkatkan terus menjadi 1 juta vaksin per hari. Tetapi tentu tergantung kesersediaan vaksin di lapangan.

Sedang pilar keempat adalah meningkatkan sistem kesehatan masyarakat (public health system). Sistem kesehatan massyarakat ini termasuk juga memperkuat puskesmas seperti mengedukasi masyarakat untuk melakukan protokol kesehatan sehingga bisa memberikan perubahan.

“Selain 4 pilar tersebut,  diperlukan adaptasi treatment medis. Sebab selama pandemi Covid-19, tentu kontak pasien non Covid-19 dengan dokter atau dengan rumah sakit jauh berkurang. “Jadi harus ada adaptasi penanganan medis, misal dengan health talk, konsultasi medis melalui sambungan telepon dan lainnya,” papar Menkes.
Sementara itu, Direktur Utama RS Premier Bintaro dr Martha ML Siahaan, MARS, MHKes mengatakan Rumah Sakit Premier Bintaro menerapkan standar tinggi dalam mencegah dan mengendalikan infeksi di rumah sakit.

Pelayanan ke pasien, keluarga dan masyarakat dapat tetap diberikan tanpa mengesampingkan prosedur sehingga dapat hidup berdampingan dengan pandemi secara baik dan dapat memberikan ata laksana sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan.

Dia menyebut terdapat persona di rumah sakit yaitu: pasien, staf rumah sakit, staf tenant dan pengunjung memiliki risiko terpapar Covid-19.

“Keempat komponen ini beresiko terpapar bahkan terinfeksi penyakit menular saat berada di rumah sakit, Kondisi inilah yang disebut sebagai Infeksi Nosokomial atau yang dikenal sebagai “Hospital Acquired Infections” (HAIs),” kata dr Martha.

” Hospital Acquired Infections” (HAIs) ini harus mampu dikontrol dan dikendalikan oleh rumah sakit, karena akan mempengaruhi proses penyembuhan pasien. Mempertahankan lingkungan yang aman dan bersih sesuai dengan standar yang isyaratkan membutuhkan komitmen yang kuat dan biaya yang tidak murah,” papar dr Martha.