May 12, 2026

P&G Health Indonesia Gandeng Unika Atma Jaya dan Unpad, Perkuat Kompetensi Apoteker Lewat Program Edukasi

Wanitaindonesianews.com, JAKARTA — Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, P&G Health Indonesia meluncurkan kolaborasi strategis dengan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan Universitas Padjadjaran melalui Program Studi Profesi Apoteker.

Kolaborasi ini bertujuan memberdayakan generasi calon apoteker, alumni, dan tenaga kesehatan melalui pembelajaran yang lebih aplikatif, relevan, serta selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan pelayanan kesehatan masyarakat.

Program jangka panjang tersebut dirancang untuk memperkuat peran apoteker sebagai salah satu garda terdepan layanan kesehatan.

Mahasiswa dan alumni muda akan dibekali pemahaman mendalam terkait penyakit yang umum ditemukan di masyarakat, seperti anemia, rhinitis akut, dan neuropati perifer.

Selain itu, program juga menekankan pentingnya penggunaan obat yang tepat dan bertanggung jawab guna meningkatkan kualitas hidup pasien.

“Di P&G Health, kami percaya bahwa apoteker memiliki peran penting dalam memastikan pasien mendapatkan pengetahuan pengobatan yang tepat sekaligus edukasi yang dibutuhkan. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menjembatani pembelajaran akademik dengan praktik nyata dan membagikan berbagai inovasi solusi kesehatan yang dimiliki oleh P&G Health Indonesia sehingga mahasiswa lebih siap menghadapi kebutuhan pasien sehari-hari,” ujar Caroline Herlina, Brand Director Health Care P&G Indonesia.

Ditambahkan Caroline, kolaborasi ini berfokus pada tiga pilar utama, yaitu edukasi, riset, dan pengabdian kepada masyarakat, dimulai dari tingkat Program Studi Profesi Apoteker.

“Tujuannya untuk memastikan keselarasan dengan kebutuhan akademik sekaligus relevansi terhadap praktik di lapangan,” ujarnya.

Sebagai bagian dari kerja sama tersebut, P&G Health bersama Unika Atma Jaya menghadirkan metode pembelajaran komprehensif melalui modul e-learning, video edukasi, serta materi terstruktur dalam bentuk e-book dan buku cetak.

Program e-learning ini menargetkan lebih dari 500 peserta hingga Juni 2026. Peserta tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa, tetapi juga alumni yang tengah menjalani profesi apoteker.

Unika Atma Jaya Dorong Pembelajaran Aplikatif
Dekan Fakultas Kesehatan dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya, Dr. dr. Felicia Kurniawan, M.Kes, menilai kolaborasi tersebut membawa perubahan signifikan dalam metode pembelajaran.

“Kolaborasi ini menghadirkan pendekatan yang lebih aplikatif dalam pembelajaran kami. Melalui berbagai format seperti e-learning, video edukasi, serta modul terstruktur, mahasiswa dapat memahami bagaimana ilmu yang dipelajari dapat diterapkan langsung dalam situasi nyata bersama pasien,” ujarnya.

Unpad Perkuat Kompetensi Konseling Pasien
Sementara itu, Universitas Padjadjaran turut ambil bagian dalam pengembangan kualitas pendidikan farmasi melalui program e-learning yang berfokus pada penguatan kompetensi “Patient Counseling & Rational Use of Oxymetazoline”, khususnya dalam penanganan rhinitis akut.

Program tersebut dirancang menjangkau seluruh mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker dan menjadi langkah awal pengembangan kolaborasi yang lebih luas di bidang edukasi, riset, serta pengabdian kepada masyarakat.

“Kami melihat kolaborasi ini sebagai langkah awal yang penting dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa, khususnya dalam aspek konseling pasien dan penggunaan obat yang rasional. Ke depan, kami berharap kerjasama ini dapat berkembang ke inisiatif yang lebih luas, termasuk riset dan edukasi masyarakat,” ujar Prof. apt. Auliya A. Suwantika, MBA., PhD, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.

IAI dan BPOM Apresiasi Kolaborasi
Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia, apt. Noffrendi Roestam, S.Si menyambut positif kolaborasi antara P&G Health Indonesia dan institusi pendidikan farmasi.

Menurutnya, seiring berkembangnya kebutuhan layanan kesehatan, apoteker kini tidak hanya berperan sebagai penyedia obat, tetapi juga sebagai mitra kesehatan yang aktif memberikan edukasi dan memastikan penggunaan obat yang tepat.

“IAI berharap kolaborasi serupa dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas layanan kesehatan di Indonesia,”papar Noffrendi.

Apresiasi juga datang dari Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M. Biomed., Ph.D.

“Untuk memperkuat ekosistem kesehatan berbasis riset, kolaborasi lintas sektor antara pelaku industri, pemerintah, dan akademisi merupakan kuncian utama. Setiap inovasi kesehatan dan inisiatif edukasi perlu memiliki dasar ilmiah yang kuat, relevan dengan kebutuhan masyarakat terkini, serta tetap mengedepankan aspek keamanan, mutu, manfaat, dan kepatuhan terhadap regulasi,” ujarnya.

Dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, program ini diharapkan tidak hanya berdampak pada pembelajaran akademik, tetapi juga mendorong perubahan perspektif terhadap profesi apoteker sebagai mitra kesehatan yang aktif membantu pasien mengambil keputusan tepat terkait pengobatan.

Redaksi's avatar

By Redaksi

Related Post