JAKARTA — Peringatan Hari Kartini dimaknai secara mendalam oleh Ketua Umum Gerakan Wanita Sejahtera (GWS), Giwo Rubianto Wiyogo. Ia menghadiri acara nonton bareng film Suamiku Lukaku di XXI Senayan Plaza pada Selasa, 21 April 2026.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang refleksi atas kondisi perempuan Indonesia, khususnya terkait kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang masih menjadi persoalan serius.
Dalam kesempatan tersebut, Giwo menegaskan bahwa semangat Raden Ajeng Kartini harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni.
“Semangat Kartini adalah keberanian. Perempuan harus berani menyatakan bahwa dirinya mengalami kekerasan, dan tidak boleh lagi menganggap hal itu sebagai sesuatu yang harus disembunyikan,” ujarnya.
Ia menyoroti budaya yang masih membuat korban KDRT memilih diam karena dianggap sebagai aib keluarga, meski kondisi tersebut justru membahayakan keselamatan korban.
Pentingnya Support System bagi Korban
Giwo menekankan bahwa keberanian individu perlu didukung oleh sistem pendukung (support system) yang kuat, baik dari keluarga maupun lingkungan sosial.
“Perempuan tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada dukungan dari keluarga dan masyarakat, termasuk sebagai saksi dan pelindung. Ini penting agar korban tidak merasa sendirian,” jelasnya.
Ia juga mendorong penguatan solidaritas antarperempuan agar mampu saling mendukung dan berkembang bersama.
Kekerasan Tak Hanya Fisik
Menurut Giwo, kekerasan terhadap perempuan tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga mencakup kekerasan verbal, psikis, hingga ekonomi.
“Kadang kita hanya melihat luka fisik, padahal kekerasan psikis dan ekonomi juga sangat berdampak besar terhadap kehidupan perempuan,” ujarnya.
Ia menilai rendahnya angka pelaporan kasus KDRT dipengaruhi stigma sosial dan ketakutan akan rusaknya rumah tangga.
“Masih banyak yang menganggap KDRT sebagai urusan domestik. Padahal ini bukan sekadar masalah internal, ini menyangkut keselamatan bahkan nyawa seseorang,” tegasnya.
Peran Negara dan Penegakan Hukum
Giwo menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan perlindungan kepada perempuan.
“Pengaduan harus diterima secara serius, tidak boleh dianggap remeh atau ditunda-tunda. Ini bukan sekadar urusan rumah tangga, ini urusan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya implementasi kebijakan dan undang-undang yang berpihak pada korban agar proses hukum berjalan efektif dan adil.
Pesan Kartini untuk Perempuan Masa Kini
Di akhir pernyataannya, Giwo mengajak perempuan Indonesia untuk terus menanamkan semangat Kartini dalam kehidupan sehari-hari.
“Selamat Hari Kartini. Mari kita berani menyatakan pendapat, terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri, serta saling bekerja sama untuk maju bersama. Di era digital ini, kita harus mampu memanfaatkan teknologi, bukan justru dimanfaatkan,” pesannya.
Sinopsis Film Suamiku Lukaku
Film Suamiku Lukaku mengangkat kisah Amina (Acha Septriasa), seorang ibu yang menjalani kehidupan rumah tangga penuh tekanan bersama suaminya Irfan (Baim Wong).
Di balik citra baik di luar, Irfan menunjukkan sisi berbeda di dalam rumah. Situasi semakin memburuk ketika kondisi anak mereka, Nadia (Azkya Mahira), terancam.
Pertemuan Amina dengan Zahra (Raline Shah), seorang pengacara yang memperjuangkan hak perempuan, membuka harapan baru untuk keluar dari lingkaran kekerasan.
Film ini menghadirkan kisah emosional tentang perjuangan, keberanian, dan pencarian kebebasan di tengah tekanan domestik.
Peringatan Hari Kartini 2026 menjadi pengingat bahwa perjuangan emansipasi perempuan masih terus berlangsung.
Keberanian, solidaritas, dan dukungan sistemik menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman dan setara bagi perempuan di Indonesia.

