April 22, 2026

Sinopsis Film Para Perasuk: Tradisi Kerasukan Roh Hewan yang Penuh Makna


JAKARTA – Fenomena kerasukan atau kesurupan kerap dianggap menyeramkan karena identik dengan masuknya makhluk tak kasat mata ke dalam tubuh manusia. Namun, film Para Perasuk garapan Wregas Bhanuteja menghadirkan sudut pandang berbeda yang tak hanya unik, tetapi juga sarat makna.

Alih-alih menghadirkan teror horor, film ini menampilkan konsep kerasukan yang disengaja, bahkan menjadi bagian dari tradisi masyarakat.

Menariknya, roh yang merasuki bukanlah roh manusia, melainkan roh hewan dengan berbagai karakter.

Film produksi Rekata Studio ini mengambil latar Desa Latas, sebuah desa fiktif dengan tradisi unik bernama Pesta Sambetan. Dalam tradisi ini, masyarakat justru menggelar “pesta kerasukan massal” sebagai hiburan sekaligus ritual budaya.

Ada sekitar 20 jenis roh hewan yang dapat merasuki tubuh manusia, seperti roh kerbau, lintah, kupu-kupu, bulus, kucing, kodok, hingga singa dan kuda laut. Setiap roh memberikan efek kerasukan yang berbeda.

Untuk mendapatkan roh tersebut, para “perasuk” harus menjalani ritual puasa dan bertapa. Semakin banyak orang yang kesurupan, semakin meriah dan dianggap sukses acara tersebut, baik dalam pernikahan, khitanan, hingga syukuran desa.

Level Kerasukan Berdasarkan Usia
Menariknya, tradisi ini memiliki tingkatan berdasarkan usia peserta yang disebut “pelamun”, yaitu:
Tingkat dasar: usia 6–12 tahun
Tingkat rendah: usia 13–15 tahun
Tingkat tengah: usia 15–30 tahun
Tingkat tinggi: di atas 30 tahun

Nuansa budaya lokal semakin terasa melalui penggunaan dialek Betawi yang kental dalam dialog para pemain.

Alur Cerita: Ambisi, Konflik, dan Perjuangan
Cerita berpusat pada Bayu, seorang pemuda yang terobsesi menjadi perasuk terbaik. Demi meraih pengakuan, ia mengikuti sayembara dan berambisi menjadi tokoh penting dalam tradisi tersebut.

Konflik mulai muncul ketika mata air keramat desa—yang menjadi pusat spiritual dan sumber kehidupan—terancam oleh perusahaan besar yang ingin membangun hotel mewah.

Dalam upaya menyelamatkan desa, Bayu bertekad menggelar pesta besar untuk mengumpulkan dana. Namun, perjalanan ini mengajarkannya bahwa ambisi saja tidak cukup untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Bukan Film Horor, Tapi Drama Penuh Makna
Meski judulnya terkesan menyeramkan, Para Perasuk justru bukan film horor. Film ini mengusung drama yang menyentuh tema cinta, keluarga, persahabatan, hingga konflik batin.

“Ini bukan film bergenre horor. Film ini tentang obsesi manusia dan mimpi memaafkan masa lalu,” tegas sutradara usai press screening di Epicentrum XXI, Jakarta.

Deretan Pemain dan Totalitas Akting
Film ini dibintangi sejumlah aktor ternama seperti Angga Yunanda, Anggun, Maudy Ayunda, Chicco Kurniawan, Bryan Domani, Indra Birowo, dan Ganindra Bimo.

Anggun yang memerankan Mbak Asri tampil memukau meski ini adalah film panjang pertamanya. Ia berhasil membawakan dialog dengan dialek lokal secara natural.

Maudy Ayunda bahkan rela tampil tanpa alas kaki demi mendalami peran sebagai sosok yang kerasukan.

Sementara Bryan Domani mempelajari alat musik tam-tam selama dua bulan, dan Angga Yunanda menunjukkan kemampuannya memainkan alat musik tradisional slompret.

Produksi film ini juga melibatkan lebih dari 1.000 figuran yang berperan sebagai pelamun dan elemen dalam dunia bawah sadar.

Film Para Perasuk dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026. Dengan konsep yang berbeda dari film pada umumnya, penonton akan diajak memahami cerita yang awalnya membingungkan, namun perlahan mengalir dan penuh makna.

Bagi yang penasaran dengan alur dan akhir cerita, film ini menawarkan pengalaman sinematik yang unik dan tak terduga.

Redaksi's avatar

By Redaksi

Related Post