15 Tahun Berkarya Vera Anggraini: ‘Merajut Nusantara’ Dengan Tampilkan 40 Kebaya Pernikahan

Menandai 15 tahun berkarya, desainer Vera Anggraini sukses menggelar fashion show kebaya pernikahan bertajuk Merajut Nusantara. Sebanyak 40 kebaya dikenakan para  model diatas catwalk   diiringi  alunan  nada etnik pentatonic Kua Etnika karya Djaduk Ferianto.
Bagaimana pun sebuah pergelaran tunggal merupakan ‘pencapaian’ bagi seorang desainer.  Bertempat di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu, 15/8 kemarin menjadi bukti kesuksesan Vera Anggraini membawa   brand Vera Kebaya dalam jangka waktu 15 tahun.
Vera mengaku  mempersiapkan pergelaran bertajuk ‘Merajut Nusantara’  yang  penuh makna ini  selama kurun waktu 4 bulan.
Vera mengatakan ‘Merajut Nusantara’  adalah sebuah kerja budaya yang dipelopori Vera bersama fotografer Darwis Triadi, pakar rias Sumatra/Minang Des Iskandar,  pakar rias Jawa Mamie Hardo serta sejumlah pekerja seni yang cinta akan tradisi budaya pernikahan Indonesia lainnya.
“Total ada 40 kebaya yang saya hadirkan pada pergelaran ini.  Semuanya baru dan  saya buat  dalam waktu 4 bulan. Saya mendesain dan menciptakan kebaya yang bisa dikenakan oleh lintas suku dan dapat dipadupadan dengan kain lokal. Saya juga melihat bahwa makin banyak generasi muda sekarang yang ingin mengenakan busana daerah di hari istimewanya. Ini menandakan kebaya menjadi busana yang sangat fleksibel untuk dikenakan dari dulu hingga jaman modern ini,”kata Vera.
 
Setidaknya kini Vera boleh berbangga lantaran cita-citanya agar kebaya dilirik generasi ‘jaman now’ telah menunjukkan hasil. Terlihat dari minat berbagai kalangan mulai dari Raisa Andriana, Raline Shah, Acha Septriasha, Momo Geisha, Rahayu Saraswati, Sundari Suekotjo, Anissa Yudhoyono hingga Kahiyang Ayu, putri Presiden RI, Jokowi.
Vera mengatakan sengaja menggandeng para pekerja seni yang memiliki kecintaan dan inspirasi yang sama pada budaya Indonesia.  Tujuannya  diharapkan dapat menjadi sumbangsih dalam melestarikan dan memajukan budaya bangsa.
“Merajut Nusantara menjadi wujud kecintaan saya akan budaya pernikahan Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang sangat kaya akan warna, corak, dan tradisi lewat pergelaran busana dan hiasan adat yang penuh variasi” papar Vera.
Pergelaran kali ini terbagi dalam 3 sesi. Sesi pertama ditandai dengan terdengarnya music karya Djaduk Ferianto. Sebuah hentakan nada tinggi seakan menjadi penanda dimulainya sekuen Khatulistiwa dimana 13 koleksi kebaya dari Sulawesi dan Indonesia Timur membawa mata menikmati keindahan warna dan bentuk kekayaan tradisi Bali, Kutai, Nusa Tenggara Timur, Papua, Toraja, Mamuju dan Bugis.

Kemudian sesi kedua ditandai dengan terciumnya wangi dupa Ratus Bokor. Pada sekuen kedua ini Vera menampilkan 12 koleksi diiringi alunan music etnis Jawa yang mengalun dengan ritme lambat. Para model tampil cantik dengan kebaya Jawa yang idenya datang dari siluet kebaya encim dan kutubaru.
Swarnadwipa menjadi tampilan yang membawa penonton ke pulau sumatera.  15 koleksi kebaya melanjutkan sekuen ketiga dengan siluet kebaya penuh variasi namun tidak jauh dari pakem.
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *