Awas Olahragawan Rentan Terkena Serangan Jantung Mendadak

GoHappyLive.com, JAKARTA- Kita tentu sering mendengar  orang-orang di sekitar kita yang rutin berolahraga  tahu-tahu mengalami serangan jantung mendadak,  Penyebabnya ternyata karena mereka tidak secara rutin Meraba Nadi Sendiri atau disingkat MENARI.

 

Tren olahraga lari terus marak  hampir di segala penjuru dunia. Coba saja lihat, sejumlah selebriti Indonesia ketagihan mengikuti sejumlah ajang  lari, baik yang berskala local ataupun internasional.

Dikatakan dr. Agung Fabian Chandranegara, SpJP(K),  sayangnya para olahragawan ini kerap kali lupa untuk melakukan pengukuran denyut jantungnya setiap hari..

“Padahal Meraba Nadi Sendiri atau MENARI  dapat dilakukan kapan saja, dimana saja,” ungkap dr. Agung .

Sebagaimana kita ketahui , bahwa pertumbuhan penduduk dan perubahan gaya hidup di masyarakat Indonesia turut  meningkatkan angka penderita penyakit jantung.  Salah satu jenis penyakit jantung yang seringkali tidak disadari adalah gangguan irama Fibrilasi Atrial (FA) yang komplikasinya dapat berupa gagal jantung, stroke dan kematian mendadak.

Fibrilasi Atrial (FA)  merupakan kelainan irama jantung berupa detak jantung yang tidak regular yang sering dijumpai pada banyak populasi di dunia dan juga di Indonesia.

Sayangnya  pengetahuan dan kepedulian tentang FA sampai saat ini masih rendah.  Padahal FA dapat menyebabkan bekuan darah di jantung yang bila Iepas ke sirkulasi sistemik dapat menyebabkan stroke.

Menurut Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, FasCC, Gum Besar llmu Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI yang merupakan pakar aritmia, penderita FA memiliki risiko 5 kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan orang  tanpa FA.

“Kelumpuhan merupakan bentuk kecacatan yang sering dijumpai pada kasus stroke dengan FA. Pada 37% pasien FA usia kurang dari 75 tahun, stroke iskemik merupakan gejala pertama  yang didapati.  Di Indonesia, sangat disayangkan banyak insiden kelumpuhan akibat FA terjadi pada usia produktif, yaitu di bawah usia 60 tahun,” ungkap dr. Yoga, di RS Jantung Harapan Kita, Kamis, 20/9.

Pasien yang datang ke RS biasanya sudah dalam keadaan lumpuh dan setelah diperiksa temyata disebabkan oleh FA. Salah satunya kelumpuhan dalam berbicara atau sulit berbicara, sebanyak 40% kelumpuhan sulit  berbicara diakibatkan karena FA.

“Kelumpuhan yang diderita pasien FA memiliki ciri khusus, seperti memiliki tingkat keparahan yang tinggi, bersifat lama dan sering berulang (relapse). Rata-rata, sekitar 50% pasien yang terkena stroke ini akan mengalami stroke kembali dalam jangka waktu 1 tahun,” jelas dr. Yoga, lagi.

Kampanye FA 2018

 Untuk menekan angka kematian akibat FA, kampanye edukasi seputar bagaimana mendeteksi FA dengan cara Meraba Nadi Sendiri atau disingkat MENARI  terus digaungkan.

MENARI jika dilakukan dengan benar dan ternyata ditemukan ada kelainan, masyarakat dihimbau untuk segera mengkonsultasikannya ke dokter. Tindakan ini diharapkan dapat menurunkan risiko stroke akibat FA yang sebagian besar mengakibatkan kecacatan atau kelumpuhan menetap.

“MENARI dapat dilakukan dengan meraba denyut nadi yang terletak dibawah tulang sejajar ibu jari. Raba dengan menempelkan jari telunjuk, tengah dan jari manis dibawahnya.. Apabila denyutnya tidak teratur atau  melebihi  100 kali  dalam waktu 1 menit, maka ada gangguan irama jantung (FA). Sebaiknya langsung konsultasikan pada dokter,” urai dr. Agung.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) bekerjasama Indonesian Heart Rhthym Society (InaHRS), Asia Pasific Heart Rhthym Socuety (APHRS)dan Yayasan Jantung.Indonesia Gelar Run For Heart Beat/ foto: oriza

 

Guna menggugah kesadaran masyarakat terhadap bahaya FA,  Indonesian Heart Rhtyhm Society (lnaHRS) bersama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dan Asia Pasific Heart Rhthym Society (APHRS) menggelar acara Run For Heart Beat, yaitu lomba lari 5 km dan 2.5km yang akan diadakan pada hari Minggu pagi tanggal 23 September 2018 di Wisma Mandiri 2 Jakarta Pusat.

Sekitar 1200 orang akan terlibat dalam Run For Heart Beat ini. Pada acara ini juga akan diselenggarakan talkshow yang berisi edukasi mengenai penyakit jantung khususnya gangguan irama FA dengan judul “Fibrilasi Atrial dan kematian Jantung mendadak pada olahragawan”.

Untuk memeriahkan suasana masyarakat dapat menikmati suguhan dari atas panggung music, MENARI bersama,bazaar dan pemeriksaan EKG ( rekam irama jantung) secara Cuma-Cuma.

Sebelumnya pada tanggal 21-22 September 2018 akan diadakan pertemuan ilmiah perhimpunan aritmia Indonesia (PERITMI)/Ina HRS atau dengan nama lain dikenal sebagai lnaHRS Annual Scientific Meeting yang ke 6, yang akan digelar di The Westin Hotel, Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *