Kasus Covid-19 Capai 4.982 Kasus Per Hari, Pihak RS Harus Perhatikan Kondisi Psikologis dan Fisik Perawat

WIN Com, JAKARTA– Selain dokter , perawat merupakan garda terdepan dalam menanggani pasien covid -19. Sebagai apresiasi terhadap profesi perawat, RS Premier Bintaro menggelar Giant Webinar bertajuk bertema “Perawat Tangguh, Indonesia Bebas Covid-19, Masyarakat Sehat.

 

 

Kegiatan webinar ini bersamaan dengan perayaan HUT  ke-47 Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)  dan merupakan  kerjasama RS Premier Bintaro dengan IKAMARS, PPNI, RSUP Persahabatan, dan STIKES Pertamedika Jakarta.

Sebagaimana diketahui profesi perawat di Indonesia dalam beberapa dekade belakangan ini mengalami peningkatan yang cukup pesat.

Baik dari segi pendidikan maupun semangat organisasi keprofesian. Hal ini tidak terlepas dari sinergitas semua pihak, mulai dari rumah sakit, pemerintah maupun organisasi keprofesian.

Dr. Martha M.L. Siahaan, MARS, MHKes selaku CEO RS Premier Bintaro, mengatakan di masa pandemi Covid-19, perawat menjadi ujung tombak layanan kesehatan di rumah sakit.

“Mereka harus menghadapi dan melayani pasien selama 24 jam tanpa kenal lelah meskipun harus mempertaruhkan nyawa, bersama tenaga medis lainnya. Kqlau dokter ada jam, ada waktunya menangani pasien. Tapi kalau perawat, 24 jam pasien berada dalam pengawasan perawat,” ungkap  Dr. Martha, dalam kata sambutannya, Minggu, 28/3.

Dr. Martha berharap melalui kegiatan webinar yang  menghadirkan sejumlah narasumber kompeten dibidangnya, dapat memberi manfaat besar kepada  para perawat .

“Lebih bersemangat, semakin tangguh, penuh optimisme dan lebih profesional dalam melayani para pasien secara professional,” ungkap dr. Martha.

Dr. Martha M.L. Siahaan, MARS, MHKes selaku CEO RS Premier Bintaro /foto: istimewa

Sementara itu  Ketua IKAMARS Haryadi Wibowo mengatakan peran perawat begitu dirasakan selama covid -19. Bersama para tenaga kesehatan lainnya, perawat adalah garda terdepan penanganan Covid-19 di Indonesia.

“Perawat sekaligus menjadi benteng pertahanan terakhir dari penanganan Covid-19. Itu sebabnya untuk tetap menjaga ketahanan para perawat dalam penanganan Covid-19 ini perlu sinergitas antar berbagai pihak baik rumah sakit, pemerintah maupun organisasi keprofesian,” kata Haryadi.

Ketua KARS Dr Sutoto menambahkan  mutu dan kualitas perawat di Indonesia  sudah setara dengan perawat-perawat di negara-negara maju.

“Saya mengapresiasi  upaya-upaya berbagai pihak dalam  meningkatkan kompetensi perawat Indonesia seperti webinar yang digelar RS Premier Bintaro ini ” ujarnya.

Satinah, S.Kep, Ners, M.Kep, Kepala Bidang Keperawatan RSUP Persahabatan dalam materinya menyampaikan bahwa sudah lebih dari setahun pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Hingga saat ini angka kasus Covid-19 masih cukup tinggi, rata-rata 4.982 kasus per hari.

Dengan melihat kasus Covid-19 yang masih tinggi, menurutnya ketangguhan perawat menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan. “Mereka sudah berjuang tanpa kenal lelah sejak Maret tahun lalu,” sambungnya.

Diakui Satinah sebagai ujung tombak penanganan Covid-19  membawa beban mental/ psikologis yang cukup berat bagi perawat.

Sehingga guna  mempertahankan ketangguhan perawat, dibutuhkan komitmen yang tinggi dari pimpinan rumah sakit untuk memperhatikan kesehatan perawatnya.

Tidak saja  memberikan nutrisi tambahan, vitamin, memastikan setiap perawat mendapatkan APD dengan baik, dan lainnya. Tetapi tidak kalah penting diperhatikan pula kondisi psikologis dan fisik perawat.

“Disinilah komunikasi perlu dibangun. Jika ada perawat yang mengalami masalah, jenuh, bosan atau yang lainnya, bahkan ada yang kena Covid-19, manajemen rumah sakit harus bijak menanganinya, ” lanjut Satinah.

Hal serupa juga disampaikan Hanif Fadilah, Ketua PPNI. Ia mengatakan ketangguhan perawat sangat  dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Diantaranya adalah memiliki kompetensi perawat untuk menangani Covid-19, memiliki spiritualitas yang tinggi sehingga melahirkan optimisme, tahu akan kemampuan diri sendiri serta memiliki sense of humor.

Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp, M.App, Sc, Guru Besar Ilmu Keperawatan Jiwa dan Komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan  Univ. Indonesia) mengatakan selain menjalani protokol kesehatan yang ketat, apabila perawat memiliki emosi positif maka dapat meningkatkan endorfin, imunitas dan kepatuhan terhadap perawatan meningkat, dengan demikian ia tidak akan tertular maupun menularkan.

Selain Satinah, S.Kep, Ners, M.Kep dan Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp, M.App.Sc., webinar tersebut juga menampilkan pembicara Ns. Maryati, S.Kep, S.Sos, MARS, Ketua STIKES Pertamedika Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *